Minggu, 09 Oktober 2016

Sehari di Hunter Valley

Awalnya Hunter Valley sungguh bukan tujuan liburan kami. Kami lebih ingin menyusuri sisi lain dari Sydney tapi bukan Hunter Valley. Tujuan ini bahkan agak dipaksakan oleh kakak ipar saya yang terus menerus mempromosikan Hunter Valley hingga akhirnya dengan terpaksa juga kami iyakan.

Namun, kami sedikit pun tidak menyesal bahkan bersyukur kami mengikuti saran dari kakak ipar. Ngapain aja di Hunter Valley?

  1. Sebel Kirkton. Di tempat ini, kami menikmati buffet breakfast kemudian main di belakang hotel ini untuk menikmati pemandangan padang rumput yang sangat menenangkan hati.
  2. Cheese & wine tasting. Disini kami melakukan wine & cheese tasting lagi-lagi dengan pemandangan yang sangat menyejukkan mata dan hawa pegunungan yang super segar.
  3. Huntervalley Zoo. Mirip seperti Featherdale wildpark, disini kita bisa berinteraksi dengan binatang khas Australia seperti koala, kangoroo, wombat, Tasmanian devil dengan bebas dan juga bisa berfoto dengan bebas pula
  4. Sabor. Tempat ini semacam dessert house yang high class, perlu reservasi sebelumnya karena antrian penuh. Cobalah flame brownies package with wine. Sempurna.
 Try it.. you will never regret..
 

Surga Dunia di New Zealand

Ini liburan kedua saya ke New Zealand. Kepuasannya menurun? sama sekali tidak, malah bertambah-tambah dan tambah. Saya bertekad mengunjungi New Zealand untuk ketiga kalinya suatu hari nanti bersama anak-anak tercinta.

3 Oktober 2016
Pagi ini jam 9.30 pesawat Qantas membawa kami ke surga dunia di Queenstown. Karena perbedaan waktu, kami baru tiba di Queenstown pukul 2.30 sore. Seperti sebelumnya, pesawat Qantas sangat nyaman dan ontime. Seperti biasanya juga, begitu tiba di airport, kami berburu SIM card untuk digunakan selama 5 hari ke depan. Sayang sekali, SIM Card yang saya incar yakni 2 Degrees tidak dijual di bandara Queenstown, akhirnya pilihan pun jatuh kepada Vodafone dengan harga 39 NZD mendapatkan paket data sebanyak 3GB sebulan. 

Setelah itu, kami menuju ke Commercial Pick up zone keluar bandara sekitar 50 meter ke arah kiri untuk dijemput oleh Apex Car Rental yang sudah kami booking sebelumnya via online seharga NZD 152 untuk 5 hari. Lokasi Apex Rental Car sangat amat dekat dari bandara Queenstown sehingga sesaat setelah dihubungi via telepon, mereka segera datang menjemput kami. Kami menyewa mobil Yaris selama di New Zealand. Karena diambil hari Senin pukul 2.45 dan dikembalikan hari Jumat di bandara Christchurch pukul 4 sore maka kami hanya dicharge biaya sewa selama 4 hari dan bukan 5 hari. 

Selama di Queenstown, kami menginap di Novotel yang letaknya sangat strategis di samping danau Wakatipu dan bisa keliling kota Queenstown dengan berjalan kaki. Acara kami hari ini adalah berjalan kaki menikmati kota Queenstown hingga malam hari karena matahari baru terbenam pukul 8 malam serta makan Fergburger yang super legendaris di Queenstown. Kami antri sekitar 15 menit untuk bisa menikmati burger ini. Hari pertama ini juga kami pakai untuk melakukan booking wahana yang kami nikmati esok hari seperti Skyline Gondola dan Shotover Jet.

4 Oktober 2016
Hari ini luar biasa. Paginya kami berkendara menuju Glenorchy dan mampir di Bennet's Lookout untuk menikmati pemandangan Remarkable. Pemandangan sepanjang berkendara menuju Glenorchy memang luar biasa, beberapa teman berkata bahkan melebihi berkendara menuju Milford Sound.
Siangnya kami berjalan kaki menuju stasiun Skyline Gondola dan menikmati makan siang sepuasnya di Stratosfere. Kami sangat puas dengan buffet lunch yang kami nikmati dengan aneka menunya. Sebelum makan siang, kami menyempatkan diri bermain Luge di area ini. It's amazing.. asik banget main luge sambil menikmati pemandangan luar biasa.

Pemandangan dari viewing deck Skyline

Sorenya, kami berjalan kaki lagi ke stasiun tempat bus membawa kami ke area Shotover Jet. Kami diputar 360 derajat sambil menaiki kapal ini.. kerenlah, pengalaman tak terlupakan. 

Malamnya, kami dinner di Flame bar & grill yang antriannya lebih parah daripada Fergburger. Jadi kami hanya reserve dan malamnya jam 9 kembali lagi untuk makan setelah mendapatkan sms. Ini makanan terbaik kami selama di Queenstown.

Ready, set, eatttt...


5 Oktober 2016
It's time to leave Queenstown. Jam 9 pagi kami checkout dan melanjutkan perjalanan ke Lake Tekapo. Tentunya sepanjang jalan kami berhenti melulu untuk photo stop di lake Hayes, makan salmon di Mount cook Alpine Salmon dengan pemandangan Lake Pukaki, New World supermarket hingga akhirnya berhasil tiba di Peppers Bluewater Resort, penginapan kami untuk hari itu. Ini salah satu hotel terbaik yang pernah saya datangi dengan pemandangan villa menghadap Lake Tekapo dan Mount Cook. It's amazing. Kamar kami 2 lantai dilengkapi dapur, kulkas, ruang menonton TV, lengkap dan kerennnn abiz termasuk kamar mandinya.
Pemandangan dari kamar hotel kami di Lake Tekapo

Sore hari jam 4 kami menuju Mt. John Observatory untuk bersantai di Astro Cafe dengan pemandangan super duper spektakuler dari atas sambil menikmati dessert di cafe ini. Again, it's amazing... Btw, untuk naik ke atas Mt. John Observatory ini, di tengah-tengah perjalanan, ada pungutan sebesar 5 NZD untuk terus naik hingga ke atas.

Malamnya, suami saya memutuskan untuk jalan kaki sendirian ke Church of Good Shepherd untuk stargazing. Saya memilih untuk berleha-leha menikmati kamar hotel kami.

6 Oktober 2016
Setelah breakfast di hotel, kami melanjutkan perjalanan menuju Christchurch. Pemandangan menuju Christchurch mirip seperti Auckland, didominasi padang rumput dipenuhi domba-domba. Agak membosankan hingga saya tertidur di perjalanan. Tiba di Christchurch siang hari, kami menuju Riccarton mall. Mall ini sangat ramai oleh pengunjung. Disini saya cukup banyak berbelanja baju kantor di beberapa toko yang sedang discount dan dipastikan bahwa harganya jauh lebih murah disana daripada di Jakarta.

Setelah puas berbelanja, kami menuju ke hotel kami di Ibis Christchurch. Di seberang hotel terdapat Hachi hachi ramen yang rasanya lumayan untuk ukuran lidah Asia. Di belakang hotel terdapat Restart mall/Container mall yang merupakan tujuan turis di Christchurch. Royal botanical Garden juga walking distance dari hotel ini.

7 Oktober 2016
Hari ini cuaca kurang bersahabat dan hujan berganti panas sepanjang hari. Kami memutuskan untuk berjalan-jalan di mall Riccarton (lagi), Royal Botanical Garden dan Hagley Park di saat cuaca cerah.

Tidak terasa, hari sudah sore dan kami menyempatkan diri mengunjungi Air Force One Museum sebelum mengembalikan mobil jam 4 sore dan diantar ke bandara oleh Apex Rental Car. Jam 6.30 pesawat kami kembali menuju Sydney.

Sekedar sharing, saya melakukan kesalahan besar dengan memborong madu di New Zealand. Ternyata madu merupakan barang yang dilarang dibawa ke Australia. Beruntung, saya berhasil melewati custom Sydney dengan selamat, tapi jangan ditiru ya perbuatan saya ini. Saya padahal sudah men-declare madu bawaan saya. Tapi petugas bandara Sydney mungkin kelamaan mendengar jenis barang apa saja yang saya declare sehingga belum selesai saya bicara hingga madu, saya sudah disuruh lewat.

Keseluruhan perjalanan di New Zealand ini buat saya luar biasa. Saya beberapa kali berkata kepada suami saya : "Tuhan pasti sedang sangat bahagia ketika menciptakan New Zealand"

Berlibur ke Sydney

Tulisan ini dibuat sehari setelah kepulangan saya dari Sydney jadi masih dalam kondisi holidayblues.. Anyway, let's back to the reality.

Seperti yang telah diceritakan pada postingan sebelumnya, liburan ke Sydney saya selipkan di sela-sela liburan ke New Zealand. Liburan ke Sydney dibagi menjadi 2x trip karena saya menggunakan visa transit multiple entry. Dengan visa ini, kita bisa mengunjungi Australia 2 x 72 jam dengan hanya membayar biaya administrasi saja, tanpa biaya visa. 

Liburan ini dilakukan bersama suami tercinta dalam rangka 10th anniversary kami jadi nuansanya jauh daripada backpacker ataupun irit-irit. Kami agak royal menghabiskan biaya untuk menginap di hotel-hotel bagus dalam liburan kali ini.

 30 September 2016
Pukul 8.05 malam, pesawat Qantas QF 42 terbang membawa kami ke Sydney. Pesawat sangat ontime dan sepanjang perjalanan kami disuguhi oleh entertainment dan makanan/minuman. Nilai saya untuk Qantas 9 dari 10. Overall sangat baik. 

1 Oktober 2016
Pukul 5.40 pagi kami tiba di Sydney airport. Keunggulan Sydney airport adalah bagasinya yang super duper cepat. Kami sama sekali tidak perlu menunggu untuk mengambil bagasi. Karena ada titipan dari kakak ipar berupa kue lapis, kering kentang dan teman-temannya, kami men-declare semua titipan. Anjing pelacak tidak berhasil mencium semua titipan sehingga kami dengan mudah dapat keluar dari custom.
Setelah keluar, kami langsung antri untuk membeli kartu Optus. Dengan kartu ini, kami dapat melakukan panggilan gratis ke seluruh nomor di Australia dengan harga 10 AUD selama 5 hari. Kenyataannya setelah kembali dari Australia seminggu kemudian, nomor ini masih dapat digunakan dengan aman. So, kesimpulannya Optus sangat recommended digunakan karena ramah terhadap kantong. 

Urusan SIM Card beres, kami segera keluar dari airport, belok ke kanan hingga ada tulisan coach/shuttle bus. Kami bertemu dengan supir dan bagian admin, melakukan tawar menawar untuk mengantar kami hingga ke depan hotel Ibis Sydney Kingstreet wentwharf. Awalnya mereka meminta 40 AUD untuk berdua, namun akhirnya deal di harga AUD 35. Tiba di hotel pukul 07.30, kami menitipkan koper dan segera menuju Hyde Park. Sebelumnya, kami membeli kartu OPAL di 7 Eleven seharga AUD 20 per kartu untuk berkeliling Sydney selama 2 hari. Berkeliling gak jelas di Hyde Park, tepat pukul 9 kami menuju Paddys Market untuk berburu oleh-oleh. Di atas paddys market ada mall yang namanya Mid City. Kami berburu barang-barang Smiggle titipan anak2 disini.

Dari Paddys Market, kami naik light trail menuju Darling Harbour dan makan di resto terkenal di Hurricane Grill. Hurricane Grill buka pukul 12 siang tapi orang sudah antri setengah jam sebelumnya. Makanannya adalah ribs dan steak yang mohon maaf tidak halal. Buat saya steak-nya tidak recommended dan pork ribs-nya sangat mantappppp... 

Karena suami saya tidak tidur semalaman di pesawat, selepas makan siang kami menuju ke hotel untuk check in dan tidur siang hingga jam 4 sore. Bangun tidur, kami segera bergegas menuju Circular Quay untuk menyusuri jalanan sepanjang Opera Sydney dan foto-foto dekat Mrs. Macquire Point. It's so beautiful..

Sydney Opera & Harbour Bridge dari Mrs. Macquire Point


Malamnya, kami makan di restoran yang juga legendaris di Pancake on The Rock. Antri sekitar 30 menit baru mendapat tempat duduk. Dari sini, sebetulnya kami berniat nonton kembang api gratis di Darling Harbour dengan naik feri. Sayang skali, terjadi tragedi salah naik feri sehingga kami entah menuju kemana. Akhirnya baru tiba di darling harbour jam 9.30 malam dan hanya pulang ke hotel dengan jalan kaki tanpa menikmati kembang api.

2 Oktober 2016 
Hari ini hari Minggu, hari dimana kita bisa memanfaatkan transportasi umum apapun di Sydney dengan hanya membayar maksimal 2,5 AUD. Kami pun memanfaatkan sisa OPAL card yang tinggal 5 AUD untuk PP ke Blue Mountain. Sarapan di Mc Donald dengan terburu-buru dekat stasiun Central, kami naik kereta jam 8.18 menuju Katoomba. Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam. Setibanya di stasiun Katoomba, kami keluar stasiun, menuju ke arah Subway di depan hotel carrington. Di depan hotel ini, silahkan naik bus 686 menuju Echo Point. Echo Point adalah tempat viewing deck untuk menikmati pemandangan di Blue Mountain. Oh ya, bus 686 ini juga menggunakan Opal Card ya, dan karena batas maksimal pembayaran hanya 2,5 AUD di hari Minggu jadi itung2 kita bisa berkeliling naik bus ini secara gratis.

Dari Echo Point, kita naik bus 686 lagi menuju Scenic World. Karena musim liburan sekolah, antrian tiket Scenic World sangat panjang sehingga kami memutuskan untuk melakukan pembelian tiket via online dengan handphone. Dengan tiket online ini, kami dapat langsung masuk ke gedung dan mendapatkan gelang untuk unlimited pass keempat wahana di Scenic World yakni: Scenic Cableway, Scenic Skyway, Scenic Walkway dan Scenic Railway. Keempatnya punya sensasi sendiri dalam menjalaninya dan yeahhh.. we had fun in here.

Puas bermain, kami segera menaiki bus 686 (lagi) untuk kembali ke Katoomba Station menuju Central Station kemudian menuju hotel kami. Dari hotel, kami dijemput oleh kakak ipar yang sudah tinggal di Sydney selama 20 tahun. Kami makan ramen yang saya lupa namanya tapi enakkkk banget. Di food court ini juga ada cheese cake yang terkenal dengan antrian yang panjang melingkar bernama Uncle Tetsu. Kami juga ikutan mencobanya. Suami saya suka banget sama cheese cake ini.

Malamnya, kami menginap di rumah ipar saya dan diantar ke airport keesokan paginya untuk petualangan kami selanjutnya di New Zealand. 
 


Kamis, 11 Agustus 2016

Mengurus Visa New Zealand dan Visa Transit Australia

Hola travellers...

Saya mau share pengalaman saya mengurus visa New Zealand dan visa transit Australia. Untuk visa New Zealand, saya menggunakan jasa Dwidaya Tour karena beda dengan pengurusan visa resmi hanya 50 ribu rupiah. Jadi untuk pengurusan resmi biayanya adalah Rp 2 juta dan dengan menggunakan jasa Dwidaya Tour sebesar Rp 2.050.000. Mengingat ribetnya dan sayangnya cuti, menimbang jalanan yang macet serta biaya parkir, maka jauh lebih efektif menggunakan jasa Dwidaya Tour untuk mengurus visa New Zealand. Oh ya, untuk visa New Zealand, biaya visa dihitung per keluarga dalam KK ya.. bukan per orang.

Berikut syarat-syarat yang saya lengkapi untuk mengurus visa New Zealand beserta suami:
1. Form visa diperoleh dan diisi oleh Dwidaya Tour, kita hanya perlu tanda tangan saja.
2. Kartu Keluarga asli dan copy
3. Fotokopi akte lahir
4. Fotokopi akte nikah
5. Paspor asli
6. Foto 4x6 dua lembar
7. Surat Keterangan Bekerja
8. Rekening koran 3 bulan terakhir

That's it.. proses 10 hari kalender sudah selesai.

Selanjutnya, untuk visa transit Australia, saya urus sendiri ke Kuningan City VFS Global lantai 2. Kantornya buka jam 8.30. Saya datang jam 8 pagi dan duduk2 manis di depan toko Batik Keris lantai 2 hingga kantor VFS buka. Di depan kantornya sebetulnya ada tempat duduk + ada kantin. Namun, jika kita tidak membeli makanan atau minuman dari sana, maka siap-siap diusir seperti kejadian yang saya lihat terjadi di beberapa orang.

Dokumen yang saya siapkan untuk pengurusan visa transit Australia adalah:
1. Foto 4x6 satu lembar ditempel di form transit 876.
2. Paspor asli + fotokopi paspor bagian depan + bagian belakang + semua yang ada capnya
3. Fotokopi Kartu Keluarga
4. Fotokopi KTP
5. Fotokopi akte lahir
6. Fotokopi akte nikah
7. Rekening bank 3 bulan terakhir (ini optional tapi kata mbak VFS alangkah baiknya kalo ada)
8. Tiket proforma Jakarta - Sydney - Queenstown. Christchurch - Sydney - Jakarta (ini gratis saya minta dari Dwidaya Tour)
9. Itenary (ini saya buat sendiri dalam excel)

Jam 8.30 tepat, pintu dibuka, kita sudah bisa masuk dengan proses scanning tas dan permintaan petugas untuk mematikan handphone. Tiba di dalam, kita akan diberikan karcis nomor urut oleh petugas lainnya sebelum masuk ke dalam kantor VFS Global. Setelah masuk, kita akan diarahkan sesuai visa yang kita apply. Saya dapat nomor urut 4 dan langsung dilayani karena ada 5 loket yang buka untuk visa Australia. Pelayanan sangat cepat hanya sekitar 10 menit. Dokumen paspor langsung dikembalikan saat itu juga dan langsung di loket tersebut kita akan diminta membayar Rp 189.500 per orang untuk visa transit. Loket yang saya maksud sangat friendly seperti halnya loket customer service di bank, bukan seperti pelayanan visa Schengen di kedutaan Belanda dimana kita harus berdiri dan bicara lewat microphone.

2 hari kemudian, saya menerima email yang menyatakan visa transit saya dan suami sudah di-approve. Fyi, kami mengajukan visa transit multiple entries karena saya akan berada 3 hari di Sydney sebelum ke New Zealand dan 3 hari di Sydney setelah dari New Zealand sebelum pulang ke Jakarta. Ini sebetulnya untuk ngakalin juga supaya gak perlu bayar visa Australia yang mahal benerrrr sebesar Rp 1.7 jutaan per orang.. That's all about the story. Good luck..

Kamis, 04 Agustus 2016

Libur Lebaran di Lombok & Gili Trawangan

Congratzz buat kalian yang baca blog ini pasti lagi rencanain mau ke Lombok or Gili Trawangan. Tanggal 7 - 10 Juli 2016 lalu, kami dianugerahi Tuhan kesempatan untuk berlibur ke Lombok & Gili Trawangan. Pasukan lengkap dengan papa, mama, 2 kakak laki-laki, suami dan 3 anak kami bertolak menuju Lombok pukul 5.50 pagi naik Garuda Indonesia. Kenapa Garuda Indonesia? Karena waktu saya search di bulan April 2016, maskapai ini kebetulan sedang promo menawarkan tiket termurah dibanding maskapai lainnya menuju Lombok.

Tiba di bandara Lombok pukul 9 waktu Lombok (waktu Lombok 1 jam lebih cepat daripada waktu di Jakarta), kami segera menelpon supir mobil sewaan yang sudah saya book dari Jakarta. Karena total ber - 9 kami menyewa mobil Pregio untuk mengantarkan kami ke Pelabuhan Bangsal seharga Rp 550 ribu. Kira-kira 2 jam perjalanan dari airport ke pelabuhan Bangsal, kami tiba di pintu gerbang pelabuhan. Seperti cerita di blog teman-teman traveller, orang Lombok menganut prinsip "bagi rezeki". Jadi kita tidak akan diturunkan tepat di pelabuhan, tapi masih harus berjalan lagi sekitar 700 meteran. Dengan membawa anak kecil 3 orang + orang tua + koper kami yang seabreg banyaknya, kami memilih untuk memakai jasa cidomo (sejenis dokar singkatan dari cikar dokar mobil). Si empunya cidomo menawarkan jasa 10 ribu per orang karena high season karena masih Lebaran hari kedua. Setelah tawar menawar didapatlah harga 30 ribu untuk 1 cidomo, kami menyewa 2 cidomo.

Tiba di pelabuhan, saya segera membeli tiket untuk menyeberang ke Gili Trawangan seharga Rp 15.000 per orang + 2 tiket retribusi sebesar Rp 4.500 sehingga total menjadi Rp 19.500. Tempat pembelian tiket tidak ada jalur antrian dan sangat kacau balau, serodok sana sini baru bisa sampai ke meja kasir pembelian tiket. Saya menyebut ingin membeli tiket untuk 6 dewasa dan 3 anak. Kasir bilang, kalau gitu berarti itungannya 7 dewasa. Jadilah saya membeli 7 tiket dikali Rp 19.500 untuk menyeberang ke Gili Trawangan.

Entah memang biasa begini atau tidak tapi orang-orang yang ingin menyeberang sangat ramai sekali. Kami mendapat tiket warna kuning sehingga kami harus menunggu hingga ada panggilan : kapal kuning.. kapal kuning.. baru kami naik ke atas kapal. Naik ke atas kapal tentunya penuh perjuangan dengan koper2 yang seabreg + anak kecil karena kita harus berbasah2 ria untuk naik ke atas kapal. So... ingat ya temans, jangan pakai celana panjang. Itu tips penting pertama.

Suasana di dalam boat menuju Gili Trawangan
Setibanya di Gili Trawangan, kami belok kiri jalan kaki terusssss menuju ke hotel kami di hotel Vila Ombak.  Kami memesan 3 kamar untuk 6 dewasa dan 3 anak kecil. Review saya tentang hotel ini: lokasi strategis karena di sebelahnya ada Scallywegs (restoran teramai di Gili Trawangan), seberang hotel ada Pearl Bar yang juga sangat tersohor, bahkan jika punya uang lebih, kita juga bisa langsung menyeberang dari Lombok tiba di hotel ini dengan private boat. Namun, dari sisi interior kamar saya agak kecewa sih ya... Biasa banget, cenderung sudah tua. Kamar kakak saya malah ac-nya panas banget, sudah complain tapi tetap saja panas dan tidak maksimal. 

Setelah check in, kami langsung makan siang di restoran legendaris di Gili Trawangan yakni Scallywag. Kami order menu terkenalnya yakni lobster bbq. Nyamieee... mahal tapi bisa ditawar langsung ke tempat bbq-nya, hehe... Kalau sore, restoran ini antri panjangggg sekali oleh bule2. Mumpung ngomongin tempat makan, tempat recommended untuk makan di Gili Trawangan ini menurut saya sih selain Scallywag ini yaitu Juku restoran. Letaknya agak jauh kalau dari hotel Vila Ombak. Jadi dari Vila Ombak, jalan ke arah pasar malam, nah lurus terus saja lewati pasar malam, restoran ini terletak di sebelah kiri. Restoran ini mengakomodir seluruh hasrat makanan mulai dari Western, Chinese, Indonesian dengan harga yang murah. Pizza besar dibandrol seharga 50 ribuan sudah puasss.. Pasar malam juga ok, tapi sayangnya waktu saya kesana, selalu ramai dan penuhhh sehingga gak kebagian tempat untuk duduk.

Ok, lanjut cerita soal Gili Trawangan, tips penting berikutnya adalah kita wajib sewa sepeda. Di Gili Trawangan, alat transportasi hanya ada Cidomo dan sepeda. Sepeda tentunya jauh lebih praktis. Di bagian belakang pulau dimana terletak Aston Hotel dan hotel Ombak Sunset berada (sister company dari hotel vila Ombak) adalah tempat paling eksotis versi saya untuk menikmati sunset. Bule2 area sini pun terlihat jauh lebih eksklusif dan berduit. Untuk mencapai ke area ini, kita harus menyewa sepeda karena sangat jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. 
Sunset dan view dari Ombak Sunset

 Kita tidak akan serasa di Indonesia ketika sedang di Gili Trawangan. Mendadak kita jadi turis asing karena justru bule mendominasi wilayah ini. Selain bersepeda selama 3 hari di Gili Trawangan, kami habiskan juga dengan snorkeling dan keliling Gili Air serta Gili Meno. Menurut saya lho ya.. untuk snorkeling, Belitung masih lebih bagus dan menang dibanding di Gili. Kami menyewa private boat seharga Rp 1 juta untuk ber-9. Maklum lagi high season, harga ini pun kami dapat setelah mendatangi hampir ke semua tempat penyewaan boat dan setelah tarik urat menawar. 

Di hari ketiga jam 12 siang, kami kembali ke Lombok dengan menumpang public boat lagi. Kembali ke Lombok tidak ada retribusi apapun, sehingga kami hanya perlu membayar 7 tiket x Rp 15.000. Setibanya di pelabuhan Bangsal, kami segera membungkus nasi balap Puyung Cahaya yang ada di pelabuhan bangsal untuk bekal makan siang di hotel. Selepas acara bungkus membungkus, kami naik cidomo (kali ini nawar Rp 20 ribu per cidomo) untuk diantar ke pangkalan taxi blue bird. Naik 2 taxi ke hotel kami di Santosa Senggigi menghabiskan pundi-pundi Rp 100 ribu per taxi-nya. 

Setibanya di hotel, kami menikmati wisata di sekitar hotel seperti kolam renang dan pantai di belakang hotel. Di hotel ini kami memesan kamar Deluxe with pool sehingga masing-masing villa terdapat kolam renang di dalamnya. We really enjoy this hotel. Malamnya, kami keluar jalan kaki untuk membeli makan malam di kafe Tenda di samping hotel.

Di hari terakhir, kami sudah book mobil ELF seharian dengan harga 800 ribu hingga malam hari. Di hari terakhir ini, kami membeli oleh-oleh, ke desa suku Sasak dimana kami bisa berfoto gratis menggunakan pakaian adat suku Sasak dan terakhir sebelum ke airport, kami berkunjung ke Pantai Tanjung Aan. Wow, pantai ini perfect.. kerennnn banget. Pasirnya seperti lada, pemandangannya betul-betul menakjubkan. Rute pantai Tanjung Aan tidak jauh dari Airport, itu sebabnya ini jadi destinasi terakhir kami sebelum kembali ke Jakarta.

Have fun at Lombok & Gili.. enjoy God's creation :)
 

Minggu, 08 Mei 2016

Keliling Roma, Kota Bersejarah

Pagi-pagi benar kami bangun, segera packing dan naik kereta dari Milan menuju Roma (lagi-lagi dengan Trenitalia). Tiba di Roma, kami check in di hotel Welcome Piram. Jaraknya tergolong jauh dari stasiun dibandingkan hotel-hotel kami sebelumnya. Tapi ok lah.. walking distance koq. Mungkin karena uda kecapean aja di hari-hari terakhir berasanya lebih jauh. 

Beres urusan hotel, kami naik bus HOHO (hop on hop off) untuk keliling Roma. Dengan EUR 17, kami bisa naik dan turun di objek-objek wisata di Roma sesuka hati mulai dari Colloseum, Trevi Fountain hingga Bassilica St Pietro (Vatikan). Waktu paling lama kami habiskan di dekat Trevi Fountain karena dekat situ ada beberapa objek wisata lain seperti Spanish Step tempat alun-alun kota pusat keramaian kota Roma. Selain itu juga ada Via Del Corso yang lagi-lagi adalah tempat belanja.

Seharian cukup sih ya kelilingin Roma hingga malam hari. Esok harinya jam 12 siang kami sudah menuju bandara Roma untuk kembali ke Jakarta via Doha.

Tips untuk melakukan tax refund di bandara Roma:
  1. Berbeda dengan beberapa bandara lain dimana proses tax refund dilakukan sebelum check in, di Roma, kita harus check in dulu dan memperoleh boarding pass dari airline untuk bisa mengurus tax refund.
  2. Setelah check in, kita harus bilang ke petugas bahwa kita perlu koper kita untuk mengurus tax refund, jadi setelah di tagged bagage-nya oleh airline, kita baru bisa menuju custom.
  3. Di custom, kita bawa boarding pass, paspor, dokumen tax refund dari airline dan tagged luggage kita untuk menunjukkan barang belanjaan kita jika diminta. Oh ya, gak boleh dipakai dulu ya barang2nya. 
  4. Setelah dari custom, di samping custom ada meja global blue, premiere tax sama satu lagi saya lupa untuk pengurusan tax refund via kartu kredit. Nah, saya sedikit trauma soal yang satu ini karena teman-teman saya kebanyakan gagal tax refund via kartu kredit. Jadi, saya mau ngotot ngambil cash aja. Ceritanya, untuk ngambil tax refund Global Blue dalam bentuk cash adanya di GATE H sedangkan boarding room untuk pesawat Qatar saya adanya di GATE G. Jadi, bagian informasi bilang kemungkinan besar saya gak bisa dapetin tax refund saya dalam bentuk cash. 
  5. Beres dari custom, saya kembali ke petugas airline untuk taroh bagage saya. Sebetulnya di samping custom disediain tempat buat masukkin bagage kita, tapi saya takut bagage saya gak nyampe jakarta, jadi saya prefer kembali ke tempat taroh bagage di tempat check in airline. Gak perlu antri lagi, cukup bilang ama petugasnya aja kita mau taroh bagage. Toh sudah di-tag juga
  6. Nah, perjuangan belum berakhir, beres urusan bagage, kita akan masuk ke area gate2 dengan melewati berbagai pemeriksaan seperti biasa. Saya usaha masuk ke gate H, kebetulan petugas imigrasi gak ngeh saya harusnya di gate G. Pas dia uda terlanjur ngecap, dia realize bahwa gate saya harusnya di gate G tapi uda terlanjur ngecap. Jadi dengan sedikit ngomel2 dia kasih saya lewat gate H tapi nanti ke gate G-nya gak bisa balik lagi, kudu naik shuttle bus. 
  7. Jadilah saya berhasil masuk gate H dan ngurus tax refund saya secara cash dan selanjutnya menuju gate G dengan shuttle bus.
Paling gak ribet sih ngurus tax refund di Schipol. Menurut teman saya di Milan pun sama ribetnya. Oh ya, selain Global Blue, saya punya satu tax refund slip lagi di perusahaan lain (logo kuning), saya lupa namanya. Karena gak bisa cash, mau gak mau, saya urus via kartu kredit. Hingga saya tulis blog ini, tax refund-nya tidak kunjung tiba padahal janjinya 2 minggu. Untungnya nominalnya sangat kecil dibandingkan tax refund saya di Global Blue.

Demikian cerita indah saya di Eropa. Baru pulang, tapi rasanya mau balik lagi.. beautiful memories.

Milan Surga Belanja

Ketiga kalinya saya mengunjungi Milan dengan Duomo yang tetap menjadi magnetnya. Namun, kali ini saya lebih banyak menghabiskan waktu di Seravalle, factory outlet di pinggiran Milan dengan daya tarik diskonnya. 

Sebelum saya cerita soal Seravalle dan Duomo, saya mau share tentang validasi tiket kereta di Itali. Sudah menjadi cerita umum bahwa banyak teman-teman traveller yang terkena denda karena lupa melakukan validasi tiket di mesin kuning di Itali. Kapan harus melakukan validasi tiket, kapan tidak harus melakukan validasi. Jawabannya adalah apabila kamu sudah punya tiket dengan tanggal dan jam lengkap di tiketmu, maka kamu gak perlu melakukan validasi lagi atas tiketmu. Tapiiii kalau tiket kamu kosong, tanpa tanggal, berlaku biasanya 1 - 3 bulan ke depan, maka kamu WAJIB validasi tiket kamu di mesin kuning sebelum kamu naik kereta. Karena artinya, tiket kamu bisa dipakai lagi kalau kamu belum validasi dan kamu dianggap mau curang dengan pakai tiket yang sama berkali-kali. Setelah divalidasi, akan muncul tanggal dan jam kamu validasi tiket itu, mirip mesin ceklok absen di kantor-kantor.

Perjalanan ke Seravalle sebetulnya ada beberapa opsi dan yang paling murah adalah naik bus. Namun, kalau naik bus, maka kamu harus ikutan jam pergi dan pulang yang sudah ditentukan oleh operator bus. Karena saya tidak mau terikat waktu pulang, maka pilihan saya adalah naik kereta. Nah, karena saya dapet tiket yang tidak tertulis tanggalnya, maka saya kudu validasi tiket itu sebelum naik kereta. 

Seravalle adalah salah satu factory outlet favorit saya. Prada, Furla, Michael Kors, Desigual, Esprit, Loccitane, Ferrari, Samsonite, semua lengkap. Favoritnya tentu saja Prada.. antrian mengular panjang untuk masuk ke toko Prada. Harga tentu saja diskon hingga 70%. Puas belanja, saya segera naik kereta kembali ke Milan. Setibanya di Milan, saya mengunjungi Duomo, makan pizza di Spizico menjadi salah satu tempat favorit saya di Duomo. Hanya saja, untuk berbelanja barang branded, terutama tas, tidak saya sarankan di Duomo. Harganya lebih mahal sekitar 10 - 30 persen dibandingkan di toko-toko lainnya di Eropa.

Duomo, my favourite one


Selama saya di Eropa mulai dari Amsterdam, Paris, Luzern, Milan toko-toko tutup jam 9 malam, mungkin karena saya pergi musim semi dimana matahari masih bersinar terang hingga jam 9 malam. Puas berbelanja, kami pun kembali ke hotel untuk packing dan segera mengakhiri perjalanan kami di kota terakhir, Roma.